Minggu, 16 Oktober 2011

Meminimalisir Kemacetan di Ibu Kota Jakarta

Kemacetan adalah situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan. Kemacetan banyak terjadi di kota-kota besar, terutamanya yang tidak mempunyai transportasi publik yang baik atau memadai ataupun juga tidak seimbangnya kebutuhan jalan dengan kepadatan penduduk, misalnya Jakarta


Kemacetan lalu lintas merupakan suatu hal yang sudah amat biasa kita dengar bahkan sering sekali kita menemuinya dalam kehidupan sehari-hari. Kemacetan lalu lintas yang selama ini kita temui disebabkan oleh banyak faktor yang komplek, dimana faktor satu dengan faktor lainnya saling barkaitan. Jakarta merupakan pusat bisnis dan pusat pemerintahan. Sudah banyak teori yang diterapkan untuk mengatasi kemacetan lalu-lintas, namun tetap saja tidak memberikan solusi yang efektif. Bahkan, sampai ada gagasan memindahkan Ibu Kota Jakarta ke tempat lain. Ini akibat pembangunan di Indonesia terpusat di Jakarta atau di Pulau Jawa saja.

Beberapa hal yang sulit dicari jalan keluar dalam mengatasi kemacetan di Jakarta, antara lain, pertumbuhan kendaraan yang sangat tinggi, rendahnya disiplin pengguna jalan, buruknya perencanaan dan penataan kota, kondisi sarana kendaraan umum yang buruk, keamanan dan kenyamanan di jalanan (pengamen, penjaja, pengemis, dan lain-lain).

Adapun penyebab kemacetan antara lain :

 

1. Arus yang melewati jalan telah melampaui kapasitas jalan
2. Terjadi kecelakaan lalu-lintas sehingga terjadi gangguan kelancaran karena masyarakat 
    yang menonton kejadian kecelakaan atau karena kendaran yang terlibat kecelakaan 
    belum disingkirkan dari jalur lalu lintas 
3. Terjadi banjir sehingga kendaraan memperlambat kendaraan
4. Ada perbaikan jalan
5. Bagian jalan tertentu yang longsor
6. Kemacetan lalu lintas yang disebabkan kepanikan seperti kalau terjadi isyarat
    sirene tsunami.

Adapun dampak yang ditimbulkan akibatt kemacetan lalu lintas , antara lain :
1. Kerugian waktu, karena kecepatan perjalanan yang rendah
2. Pemborosan energi, karena pada kecepatan rendah konsumsi bahan bakar lebih rendah
3. Keausan kendaraan lebih tinggi, karena waktu yang lebih lama untuk jarak yang pendek,
    radiator tidak berfungsi dengan baik dan penggunaan rem yang lebih tinggi
4. Meningkatkan polusi udara karena pada kecepatan rendah konsumsi energi lebih tinggi,
   dan mesin tidak beroperasi pada kondisi yang optimal 
5. Meningkatkan stress pengguna jalan
6. Mengganggu kelancaran kendaraan darurat seperti ambulans, pemadam kebakaran 
   dalam menjalankan tugasnya 


Langkah-langkah Meminimalisir Kemacetan


Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk meminimalisir permasalahan kemacetan  lalu lintas yang harus dirumuskan dalam suatu rencana yang komprehentip yang biasanya meliputi langkah-langkah sebagai berikut:


Peningkatan kapasitas

Salah satu langkah yang penting dalam meminimalisir kemacetan adalah dengan meningkatkan kapasitas jalan/parasarana seperti:

  1. Memperlebar jalan, menambah lajur lalu lintas sepanjang hal itu memungkinkan,
  2. Merubah sirkulasi lalu lintas menjadi jalan satu arah,
  3. Mengurangi konflik dipersimpangan melalui pembatasan arus tertentu, biasanya yang paling dominan membatasi arus belok kanan.
  4. Meningkatkan kapasitas persimpangan melalui lampu lalu lintas, persimpangan tidak sebidang/flyover,
  5. Mengembangkan inteligent transport sistem.


Jalur Bus Transjakarta (Busway)

Untuk meningkatkan daya dukung jaringan jalan dengan adalah mengoptimalkan kepada angkutan yang efisien dalam penggunaan ruang jalan antara lain:

  1. Pengembangan jaringan pelayanan angkutan umum
  2. Pengembangan lajur atau jalur khusus bus ataupun jalan khusus bus yang di Jakarta dikenal sebagai Busway,
  3. Pengembangan kereta api kota, yang dikenal sebagai metro di Perancis, Subway di Amerika, MRT di Singapura
  4. Subsidi langsung seperti yang diterapkan pada angkutan kota di Transjakarta, Batam ataupun Jogjakarta maupun tidak langsung melalui keringanan pajak kendaraan bermotor, bea masuk kepada angkutan umum.

Pembatasan kendaraan pribadi

Langkah ini biasanya tidak populer tetapi bila kemacetan semakin parah harus dilakukan manajemen lalu lintas yang lebih ekstrem sebagai berikut:
1. Pembatasan penggunaan kendaraan pribadi menuju suatu kawasan tertentu seperti 
    yang direncanakan akan diterapkan di Jakarta melalui Electronic Road Pricing (ERP).
    ERP berhasil dengan sangat sukses di Singapura, London, Stokholm. Bentuk lain dengan 
    penerapan kebijakan parkir yang dapat dilakukan dengan penerapan tarip parkir yang 
    tinggi di kawasan yang akan dibatasi lalu lintasnya, ataupun pembatasan penyediaan 
    ruang parkir dikawasan yang akan dibatasi lalu lintasnya.




2, Pembatasan pemilikan kendaraan pribadi melalui peningkatan biaya pemilikan kendaraan,
    pajak bahan bakar, pajak kendaraan bermotor, bea masuk yang tinggi. 

   


3. Pembatasan lalu lintas tertentu memasuki kawasan atau jalan tertentu, seperti 
    diterapkan di Jakarta yang dikenal sebagai kawasan 3 in 1 atau contoh lain
    pembatasan sepeda motor masuk jalan tol, pembatasan mobil pribadi masuk jalur 




 

Selain itu ada juga Alternatif Solusi lainnya, antara lain :
 
a. Sudah saatnya pemerintah mencari solusi dengan membuat kebijakan yang komprehensif
    dan sistematis. Jangan lagi kebijakan pragmatis yang diterapkan. Ada beberapa 
    alternatif untuk mengatasi kemacetan. Pertama, membatasi penjualan kendaraan 
    bermotor baru untuk pribadi. Tentu hal ini akan mendapat tantangan yang besar 
    dari produsen kendaraan bermotor karena pendapatanya akan berkurang. Selain itu pajak
    juga akan berkurang. Tetapi inilah tantangan yang harus dihadapi pemerintah. Sudah
    seharusnya sektor lingkungan diperhatikan, tidak semata-mata sektor ekonomi.


b. Kedua, menaikkan besaran pajak kendaraan bermotor baru dan mengenakan pajak 
    progresif bagi pemilik kendaraan pribadi lebih dari satu. Hal ini tentu saja perlu ada 
    pengawasan ketat. Karena dapat “diakali” dengan membuat identitas diri (KTP) ganda 
    untuk menghindari pajak progresif tersebut. 


c. Ketiga, menaikkan biaya parkir di gedung-gedung komersial, seperti mall, dan jalan-jalan
    utama.


d. Keempat, mengenakan sistem pajak pada jalan-jalan dan waktu tertentu. Tidak cukup 
   dengan sistem three in one, karena sudah terbukti gagal mengatasi kemacetan, dengan 
   adanya jasa joki. 

e. Kelima, peningkatan infrastruktur jalan raya. Dimulai dari perkerasan
    jalan sampai pada manajemen penggunaan jalan, seperti menghitung kembali durasi
    waktu lampu lintas yang terlalu lama, yang menyebabkan antrean dan penumpukan pada 
    persimpangan.


Sumber :
www.google.com (mencari gambar)















Kelebihan dan Kelemahan Lensa Kontak (Softlens)


Lensa kontak (kadang hanya disebut sebagai "kontak") adalah lensa korektif, kosmetik, atau terapi yang biasanya ditempatkan di kornea mata.


Lensa kontak biasanya mempunyai kegunaan yang sama dengan kacamata konvensional atau kacamata biasa, tetapi lebih ringan dan bentuknya tak nampak saat dipakai. Kehadiran lensa kontak (contact lens) banyak membantu mereka yang kurang nyaman dengan kaca mata. Tanpa lensa kontak, sulit membayangkan seorang atlet yang penglihatannya berkurang bisa meneruskan profesinya. Meski sekarang sudah ada kacamata khusus untuk atlet, toh dari segi kenyamanan tentu sangat kurang.
Belakangan, seperti halnya kaca mata, ada juga lensa kontak(softlens)  bagi mereka yang bermata normal, khususnya perempuan yang ingin tampil modis dan fashionable. Wajar jika perkembangan lensa kontak pun sangat pesat. Di Indonesia, diperkirakan ada sekitar 2 persen pemakai lensa kontak dari total pemakai kacamata. Sedangkan di Singapura, jumlahnya sekitar 20 persen dari total pemakai  kacamata.

Adapun kelebihan dari pemakaian lensa kontak (softlens), yaitu :
1.  Menambah Percaya Diri
     Para wanita yang merasa kurang pede memakai kacamata, bisa mendapatkan rasa 
     pedenya kembali setelah memakai lensa kontak.

2.  Menunjang aktivitas tertentu
Orang-orang dengan pekerjaan tertentu relatif memerlukan lensa kontak agar bisa bergerak bebas dan tak takut terganggu, dibandingkan jika harus memakai kacamata. Contohnya olahragawan, penari, aktor, penyanyi, orang-orang yang bekerja dalam hujan, asap, dan lain-lain.
3.  Faktor Keamanan
Untuk aktivitas yang lumayan berat, pengguna tak perlu takut lensa bakal jatuh atau pecah,seperti halya jika memakai kacamata.
4.  Penglihatan lebih baik
Lensa kontak meminimalisasi jarak mata dengan lensa hingga ketajaman mata menjadi lebih baik. Selain itu, sudut penglihatan pun menjadi lebih luas karena lensa menempel
Langsung pada mata.
5.  Baik untuk penderita mata silendris (cylinder)
Bagi pemakai kacamata silendris, lensa kontak mengoreksi kekurangan akurasi kacamata hingga titik terendah, sehingga penglihatan pun menjadi lebih baik.

Banyak alasan kenapa orang memilih memakai lensa kontak daripada kacamata. Namun, pengguna kacamata juga tak perlu berkecil hati, karena lensa kontak pun memiliki sejumlah kelemahan yang ternyata juga berisiko. Dan karena terhitung masih baru, banyak orang yang tak tahu risiko tersebut. Meski banyak membantu mereka yang kurang nyaman dengan kacamata, ada sejumlah penyakit yang rawan menyerang pemakai produk ini. Menurut pakar lensa kontak dari Johnson & Johnson Vision Care, Jack Chan, salah memakai lensa kontak, bisa-bisa bukan penglihatan yang terbantu, melainkan timbul penyakit.

Adapun beberapa kelemahan lensa kontak (softlens) :
1.  Tidak Aman
      Pemakai awal biasanya merasa tidak enak, karena adanya benda asing pada bola
      mata  mereka. Namun, lama-kelamaan, mata pun akan terbiasa. Biasanya setelah
      menghentikan  pemakaian selama seminggu, sensitivitas kornea akan normal lagi,
      sehingga pemakai harus berdaptasi lagi . Agar menjadi nyaman dengan lensa
      kontaknya.
2.   Kekurangan oksigen.
      Terlalu lama atau terlalu ketat memakai lensa kontak bisa membuat mata kekurangan  
      oksigen. Konsekuensinya, berbagai macam komplikasi bisa terjadi, seperti noda 
      kornea dan kornea edema.
3.   Mudah hilang
      Ukuran lensa kontak yang relatif kecil dibanding kacamata membuatnya lebih gampang
      hilang atau terselip.
4.   Kurang ekonomis (relatif mahal).
      Harga lensa kontak juga relatif mahal, di atas Rp 100 ribu. Apalagi, masa pakainya 
      hanya berkisar 2 minggu sampai sebulan. Umumnya, hanya golongan ekonomi 
      tertentu yang mampu membelinya.
5.   Adaptasi lama
      Pemakai awal butuh waktu lama untuk memakainya, dari belajar memakai, merawat,
      hingga membiasakan mata.
6.   Butuh perawatan ekstra
      Lensa kontak juga butuh perawatan lebih ketimbang kacamata. Misalnya, harus    
      menggosok, membersihkan, dan menyimpan lensa pada tempat antikuman.


Ada 10 komplikasi yang bisa timbul akibat pemakaian lensa kontak , antara lain: 


1. Noda Kornea atau Supercial Punctate Kertitis (SPK) 

    Rusaknya permukaan kornea mata. Biasanya karena memakai lensa yang terlampau 
    ketat, sehingga mengakibatkan mata kekurangan oksigen (hypoxia), alergi, atau 
    keracunan. Gejalanya: penderita merasa tak nyaman, menjadi sangat sensitif pada 
    cahaya (photophobia), dan adanya noda di kornea mata. Pengobatan yang bisa 
    dilakukan adalah dengan mengurangi atau menghentikan pemakaian lensa kontak.

2.  Blepharitis 

 
     Belpharitis adalah peradangan pada kelopak mata karena lensa tak cocok. Gejalanya  
     timbul gatal-gatal, kelopak mata seperti terbakar, timbul kerak di sekitar kelopak mata, 
     pembuluh darah tampak jelas, kelopak saling menempel, dan biasanya diikuti oleh SPK. 
     Pengobatannya adalah dengan menghentikan pemakaian lensa, mengompres bengkak  
     dengan air hangat, atau pemberian salep antibiotika.

3.  Reaksi Alergi (Atopik) 
     Peradangan atau iritasi yang disebabkan masuknya benda pembawa alergi (misalnya 
     debu, serbuk, atau makanan) ke dalam mata. Gejalanya antara lain timbul rasa gatal, 
     mata merah, hingga pembengkakan di kelopak mata. Umumnya, alergi terjadi musiman 
     dan penderita memang memiliki riwayat alergi. Pengobatannya dengan menghindari 
     penyebab alergi, menghilangkan bengkak di mata dengan menggompres memakai air 
     dingin, bila terjadi peradangan beri obat anti radang, kemudian untuk menghilangkan 
     alergi beri obat alergi (antihistamine).

4. Sindrom mata kering (keratoconjunctivitis sicca) 
     Timbulnya noda (keratitis) kronis pada kornea inferior. Komplikasi ini disebabkan oleh  
    produk (sekresi) air mata pemakai yang tak cukup. Gejalanya: mata seperti terbakar, air 
    mata sering keluar, dan cairan di mata berlebihan. Pengobatan: memberi suplemen air  
    mata, salep, mengganti materi lensa. Bila tak berhasil, hentikan pemakaian lensa.

5. Corneal edema 
    Berlebihannya cairan dalam kornea hingga menimbulkan stres pada kornea. Biasanya 
    karena mata kekurangan oksigen. Gejalanya photophobia, penglihatan berkabut, mata   
    merah, kenyamanan berkurang saat lensa di buka, ada krista di kornea, pembuluh darah  
    kelihatan, dan timbul SPK. Pengobatan: menambah oksigen pada mata, mengurangi atau 
    menghentikan pemakaian lensa kontak.

6. Infiltrates
    Peradangan pada jaringan mata akibat kurang bersihnya lensa, oksigen yang kurang,        
    reaksi alergi hingga menimbulkan infeksi. Biasanya terlihat seperti sekelompok sel 
    berwarna putih (white internal cell clusters). Penglihatan berkurang, mata merah, 
    photophobia, dan timbul noda putih di mata adalah gejala-gejala infiltrates. 
    Komplikasi ini bisa diatasi dengan menghindari pemakaian lensa saat aktif, 
    mempersering mengganti lensa, memberikan antibiotik/steroid, dan perhatikan
    cara perawatan lensa.

7. Infeksi 
 
   
Masuknya organisme berbahaya ke dalam mata seperti bakteri, jamur, protozoa, dan  
    virus hingga menimbulkan infeksi pada mata. Gejala: mata merah, kelopak mata 
    lengket, air mata berlebihan, penglihatan berkurang, dan timbul noda di kornea. 
    Pengobatan dilakukan dengan mengompres menggunakan air dingin, memberi air mata 
    buatan, dan terapi antibiotik kalau perlu.

8. Microbila Keratitis 

    Masuknya organisme berbahaya dalam kornea mata seperti bakteri, jamur, protozoa, dan 
    virus hingga mengakibatkan pembengkakan. Gejala yang timbul antara lain rasa sakit di 
    mata, photophobia, air mata berlebih, mata merah, dan penglihatan berkurang. Jika 
    sudah parah, mata mengeluarkan nanah. Untuk mengobati, bisa dilakukan terapi 
    antibiotik, mengganti lensa kontak, pentingnya pengenalan dini untuk mencegah 
    akibat lebih fatal.

9. Vaskularisasi Kornea 

 
   
Pembentukan pembuluh darah dalam jaringan avascular (kornea). Seringkali disebabkan 
    kekurangan oksigen oleh lensa yang terlampau ketat. Gejalanya antara lain penglihatan 
    berkurang, timbul pembuluh darah di kornea. Mengurangi pemakaian lensa atau 
    mengganti lensa yang mendukung pemenuhan oksigen.
 
10. Giant Papillary Conjunctivitis (GPC) 


     Peradangan papillary pada kelopak atas mata. Penyebabnya masih belum diketahui         
     pasti walau ada dugaan karena ketidakcocokan pemakaian lensa. Gejalanya gatal-gatal, 
     penglihatan berkurang, gerakan lensa berlebihan, tak bisa memakai lensa biasa, dan    
     kelopak bengkak. Pengobatannya: kurangi pemakaian lensa, kompres dengan air dingin, 
     hubungi dokter mata.




Sumber :